THE MIRACLE THAT I HATE [Chapter 1]

image

Title: THE MIRACLE THAT I HATE

Author: Clarence Vynna Zefanya

Genre: bad romance-hurt-sweet

Maincast: Cho KyuHyun | Choi Hee Yeon

Support cast: Lee Donghae

Chapter: 1(one)

Untuk diingat: aku gampang kena typo(s), jadi kalo ada huruf yang meleset tolong dibenerin secara pribadi aja. Dilarang keras untuk mengkopi-paste. Cerita aneh kayak gini aja masa masih dicopast. Jangan jadi pembaca gelap. Kalau kalian nggamau kasih komentar disini, seenggaknya kasih komentar ke kontak pribadi aku.

Line: cvzefanya
Twitter: haesilverrr

Kamsahamnida.

~~

“Aku membenci hidupku – aku menyukai hidupmu. Aku membenci segala hal yang terjadi dalam hidupku, apapun itu – aku menyukai segala hal yang terjadi dalam hidupmu, apapun itu. Aku membenci diriku – aku menyukaimu.”The Miracle that I Hate.

~~

Seoul, 7.00 AM KST.

Choi Hee Yeon’s appartement.

Dalam hidup ini, aku membenci tiga hal. Aku membenci hidupku, segala hal yang terjadi dalam hidupku, dan diriku sendiri. Tapi selain tiga hal itu, aku juga membenci banyak hal lain. Salah satunya adalah, aku membenci sinar matahari yang tanpa izin masuk melalui celah kaca appartement ku, sekalipun aku sudah meminta In Young untuk menutup rapat-rapat gorden disini. Kepalaku masih begitu nyaman bersandar dibantal. Dan aku juga masih nyaman memeluk guling yang setiap malam menjadi teman tidurku. Mataku masih terpejam, aku malas bangun.
Tapi, sesuatu sudah menelusup masuk kedalam indera penciumanku. Ah, sial! Han In Young, dia pasti sengaja memasak bulgogi- makanan kesukaanku– untuk membuatku bangun dengan cepat pagi ini. Dan lebih sialnya lagi, aku tidak bisa untuk tidak bangun dan langsung berlari menuju dapur karena wangi dari bulgogi olahan In Young benar-benar membuatku lapar!

Hee Yeon-ya.. Kau sudah bangun?” Itulah sapaan pertama In Young saat mendapati aku tengah berdiri dengan mata masih terkantuk-kantuk dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk menarik kursi makan untuk aku duduki.

“Ne.. Han In Young-ssi. Kau ini benar-benar membuatku kesal.” Dan itulah balasan yang keluar dari mulutku sebagai balasan atas sapaannya.

In Young tertawa pelan, dan kini ditangannya sudah ada dua piring yang berisi bulgogi panas yang langsung membuatku tidak lagi mengantuk. Aku mengetuk jari-jariku diatas meja makan, bersikap seakan aku tak sabar untuk memakan hasil olahan tangannya. Ya, memang benar, aku sudah tak sabar untuk menyantap bulgogi buatan Han In Young, sahabatku.

“Mianhae.. Aku sengaja memasak bulgogi pagi ini karena… ya aku memang ingin membuatmu bangun lebih pagi dari biasanya.”

Aku melirik sekilas kearah jam dinding, dan benar saja aku bangun lebih cepat setengah jam dari biasanya. Bulgogi, kau berhasil!

Aku langsung menyantap sarapan pagiku ini dengan lahap. Jinjja… In Young memang pandai sekali memasak. Ah, lain kali aku harus belajar masak dengannya.

“Biar aku yang merapikan ini semua. Kau, mandilah sekarang. Aku sudah mandi. Dan kita harus tiba dikampus satu jam lebih cepat dari biasanya.” Ucap In Young yang mengambil alih piring yang sudah kosong dihadapanku. Aku mengernyit untuk yang kesekian kali. Setelah berhasil membuatku bangun setengah jam lebih awal, kini aku juga harus tiba dikampus satu jam lebih awal? Terkutuklah hari ini…

Ya! In Young-ssi! Apa yang kau maksud dengan satu jam lebih awal sudah ada dikampus? Kau ini.. sudah membuat aku bangun pagi, dan sekarang…”

“Arra.. arra. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Choi Hee Yeon. Kita tidak punya banyak waktu. Tiba dikampus satu jam lebih awal atau mengerjakan tugas yang bertumpuk-tumpuk? Kau, mandilah cepat! Aku akan menyelesaikan ini semua.” Tanpa aba-aba In Young langsung menarik tanganku dan menyeret langkahku menuju kamar mandi.

Jelas, aku tidak terima dengan perlakuannya yang tidak masuk akal pagi ini.

“Yak! Han In Young! Apa yang kau lakukan, eoh?” Aku berteriak didepannya. In Young membuka daun pintu kamar mandi dan langsung mendorong tubuhku pelan untuk masuk. Lalu, dia menutup rapat pintu kamar mandi ini dan aku benar-benar sudah berdiri dengan bingung didalam sini.

“Kau lupa, eoh? Hari ini kampus kita akan kedatangan direktur dan staff-staff utama dari Cho Comunity.Ent. Dan kau tahu itu artinya apa?” Tanya In Young dari luar pintu kamar mandi. Pertanyaan In Young mampu membuatku berpikir. Cho Comunity.Ent….

Tuan Cho Kyu Hyun yang terhormat?

“Ya! Kau benar! Siapa tahu, tahun ini adalah tahun keberuntungan kita, Yeon! Ah, aku yakin sekali tahun ini anak tunggal dari tuan Cho DaeWoon yang ramah itu pasti akan datang. Kau tahu, bukan? Aku sangat ingin tahu… Seperti apa wujud pemegang saham utama dikampus kita itu. Ya, Hee Yeon-ssi.. Aku mohon padamu, mandilah dengan cepat. Aku sungguh tidak sabar.”

Andwae!! Mengapa In Young bisa tahu tentang apa yang aku pikirkan? Aku sama sekali tidak mengucapkan apa yang ada dipikiranku. Tapi, ada benarnya juga perkataan In Young. Siapa tahu, anak tunggal tuan Cho yang ramah itu kali ini ikut datang untuk mengikuti acara rutin tahunan ini. Tuan Cho KyuHyun yang terhormat… Terkutuklah aku karena begitu penasaran dengan dirimu. Aku berharap kau tampan, agar penantian panjangku ini tidak sia-sia. Dan terkutuklah aku, mengapa aku hanya mengetahui namamu saja. Aku bahkan nyaris putus asa karena dari hasil penelusuranku, aku tidak menemukan satu hal pun dari dirimu. Tuan muda Cho.

~~

“Hari ini kampus kita akan kedatangan tamu istimewa, kau tahu itu?” Pertanyaan In Young seakan mengingatkanku pada apa yang aku pikirkan tadi pagi dikamar mandi. Ah, aku hampir melupakannya. Dan kebetulan, saat aku dan In Young memasuki halaman depan kampus banner yang berukuran besar terpajang nyata didekat gerbang. Banner bertemakan ‘Take If if You Want‘ akan menjadi ikon pembuka dari serangkaian acara rutin tahunan dikampus ini yang akan dipimpin oleh tuan direktur utama Cho Comunity.Ent, Cho Dae Woon.

Aniya.. Yang ada dipikiranku saat ini bukanlah rangkaian acara yang akan diselenggarakan siang ini. Bukan juga tentang impian yang selalu aku tunda tentang naskah-naskah sia-siaku untuk Cho Comunity.Ent. Aku pun bingung dengan apa yang selalu aku pikirkan selama bertahun-tahun saat acara rutin semacam ini digelar. Ya, anak tunggal dari Tuan Cho DaeWoon adalah pemegang saham utama dikampusku, Seoul Art University, dan tuan muda itu tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki dikampus ini. Dan itu, yang selalu aku pikirkan selama bertahun-tahun aku menjadi mahasiswi dikampus ini. Aku tidak tahu, kenapa aku bisa punya rasa penasaran padanya sebesar ini. Tapi, aku pernah membayangkan seperti apa tuan Cho itu untuk pertama kalinya.

Seorang direktur sudah pasti memiliki otak dengan tingkat intelektual yang tinggi. Dia, sudah pasti pintar. Seorang direktur sudah pasti sangat mendambakan waktu. Dia, sudah pasti bukan tipikal orang yang suka membuang-buang waktu. Seorang direktur sudah pasti memiliki wajah yang serius. Seorang direktur pasti memiliki kumis tipis diatas bibirnya. Dan, seorang direktur pasti memiliki perut yang sedikit besar dikarenakan selalu menerima tawaran makan siang diluar kantor dengan orang-orang penting disekitarnya. Ya, setidaknya aku membayangkan tuan Cho KyuHyun seperti itu.

Mwo? Tuan Cho? Aku memikirkannya lagi?

“Hee Yeon-ssi.. Gwaenchana?” In Young membuyarkan lamunanku.

In Young-ssi, kau sudah berapa lama berteman denganku, eoh? Apa kau lupa kalau aku tidak pernah memperdulikan acara itu. Dan kau masih berani membicarakan hal itu didepanku. Begitu?” Aku membalas ucapannya. Ya, aku bukan bermaksud untuk bicara seperti itu pada In Young, tapi aku hanya tidak ingin membicarakan soal Cho Cimunity.Ent yang sudah pasti akan membuatku kembali memikirkan tuan Cho yang aku tidak mengetahui seperti apa dia sebenarnya.

“Kau yakin kau tidak pernah memperdulikan acara rutin tahunan itu? Lalu, mengapa aku seringkali melihat puluhan kertas hasil print out dari laptopmu yang berisikan naskah yang ya.. aku belum pernah membacanya dengan detail. Tapi aku selalu mendapati tulisan Cho Comunity.Ent sebagai tujuanmu untuk mengirim naskah itu. Kau masih mau mengelak?”

Pernyataan In Young jelas membuatku kaget. Bagaimana bisa In Young tahu tentang naskah-naskah yang memang aku tujukan untuk Cho Comunity.Ent itu. Ah, ini tidak bisa dibiarkan!

“Ya! Han In Young! Apa yang kau lakuka dikamarku? Apa yang kau lakukan dimeja belajarku? Ya! Han In Young!” Dan aku benar-benar panik. Aku tidak ingin In Young tahu, kalau selama ini aku manaruh mimpi besar pada perusahaan milik keluarga Cho itu.

“Kau memang pernah merapikan kamarmu setelah laki-laki itu menghancurkan hidupmu? Dan kau tidak pernah tahu, kalau akulah yang selama ini merapikan kamar serta meja belajarmu? Ya! Kau ini sangat keterlaluan.” Balas In Young.

Ah, mianhae, Han In Young. Aku benar-benar panik saat ini. Aku tidak ingin kau tahu tentang mimpi konyolku itu. Dan, ya, gomawo ne, Han In Young. Kau mengingatkanku pada laki-laki yang telah membuat hidupku berubah 180 derajat.

“Aku tidak ingin membahasnya. Aku duluan.” Akupun memilih untuk berjalan lebih dulu, meninggalkan In Young, dan aku menginginkan ketenangan untuk sekarang.

“Ya! Choi Hee Yeon! Chukhae!

Seseorang yang lain, bukan In Young, berhasil membuat langkahku terhenti. Chukhae? Dia memberiku ucapan selamat? Untuk apa?
Aku berbalik, dan mendapati Min Ra berdiri dengan senyum merekahnya disamping In Young. Dan In Young, gadis itu juga tersenyum kearah ku. Sepertinya, Min Ra sudah memberitahu lebih dulu tentang apa yang membuat mereka tersenyum itu pada In Young.

“Mwo?” Aku menatap mereka dengan bingung. Sungguh, ini adalah hari yang aneh.

Min Ra mendekatiku, dan membisikan sesuatu ditelingaku.

“MWOOOO? AKU? MWO?!

Ini rasanya tidak mungkin. Min Ra baru saja mengatakan, kalau tuan Cho DaeWoon ingin menemuiku setelah acara nanti siang berakhir. Dan Min Ra juga mengatakan, kalau Nyonya Park lah yang merekomendasikan seluruh hasil karya tulisku, yang selalu aku kerjakan sebagai tugas bulananku pada tuan Cho. Dan Min Ra bilang, tuan Cho tertarik dengan naskah yang aku buat. Beliau ingin menemuiku, dan membicarakan soal naskah lain dengan serius.

Sungguh, aku tidak bisa bernapas dengan benar sekarang.

“Tuan Cho, ayahmu ingin menemuiku.

~~

Seoul Art University 4.00 PM KST

Private room, Seoul Art University.

Acara rutin tahunan itu baru saja berakhir lima menit yang lalu. Dan kini, aku duduk seorang diri menunggu tuan Cho DaeWoon yang terlihat masih sibuk melakukan wawancara. Acara rutin tahunan itu berlangsung selama tiga jam penuh, dan aku hanya mengikuti acara itu selama satu jam. Setelahnya, aku langsung menuju tempat ini.

Sepuluh menit berlalu, dan tuan Cho belum juga datang. Aku menghentak kecil kedua kakiku agar rasa gugup yang aku rasakan bisa berkurang.

“Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada tuan Cho saat beliau membuka pintu ruangan ini? Dan, apa yang akan ia bicarakan padaku nanti? Demi Tuhan, aku gugup.” Aku terus menatap cemas kearah pintu. Aku tidak pernah merasa sebingung ini sebelumnya.

Klek.

Aku membulatkan kedua mataku dan segera bangun dari duduk. Aku membungkukan tubuhku untuk memberinya salam, “Annyeong haseyo, Hee Yeon Choi imnida.” Lalu aku menegakkan tubuhku, dan mendapatkan tuan Cho tengah tersenyum ramah kepadaku.

“Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk pertemuan ini, nona Choi.”  Astaga! Tuan Cho yang amat sangat terhormat ini memanggilku dengan sebutan nona Choi? Sungguh aku akan merasa sangat bahagia saat orang memanggilku dengan marga ayahku, Choi. Entahlah, aku selalu merasa percaya diri saat orang memanggilku ‘Choi’.

“Ne, dengan senang hati, tuan. Saya berterimakasih karena tuan sudah meluangkan waktu anda yang begitu mahal untuk membaca naskah saya.”

Tuan Cho tersenyum, dan mempersilakan aku untuk kembali duduk. Tuan Cho sendiri duduk dihadapanku.

“Nona Choi, kau tahu aku sangat menyukai naskah yang kau buat sebagai tugas akhir bulananmu itu. Saat pertama aku membaca naskahmu itu, aku langsung berpikir. Bagaimana mahasiswi seusiamu bisa membuat naskah sebaik dan sesempurna ini. Itu sebabnya, aku meminta pihak universitas untuk bisa mengatur waktu pribadi denganmu.”

Tuan Cho DaeWoon yang terhormat ini menyukai karya tulisku? Ia menyukai naskah yang aku buat? Demi Tuhan, ini seperti mimpi.

“Aku terlalu gugup untuk menerima pujian darimu, tuan Cho. Ne, kamsahamnida.”

Terjadi keheningan sesaat. Aku gugup. Aku belum pernah bertemu orang penting seperti tuan Cho sebelumnya. Ini adalah pengalaman pertamaku. Tuan Cho ini terlihat tampan dan berwibawa. Cara berpakaian dan bicaranya sungguh mencerminkan sosok orang terhormat. Jika tuan Cho DaeWoon setampan dan seberwibawa ini, itu artinya tuan muda Cho…

Ani.. Aniya. Berhenti memikirkannya, Yeon.

“Aku ingin menawarkanmu sebuah pekerjaan.” Ucap tuan Cho memecah lamunan singkatku.

Eoh? Pekerjaan? Mian, tuan. Aku masih berstatus mahasiswi labil untuk dipekerjakan diperusahaan sebesar Cho Comunity.Ent.” Apa yang baru saja aku katakan, hah? Aku baru saja menolak tawaran emas! Aku baru saja meluluhlantakan mimpi yang selama ini aku bangun. Kau benar-benar bodoh dan memalukan, Choi Hee Yeon!

“Boleh kulihat naskahmu? Naskahmu yang lain?” Tanya tuan Cho tanpa memperdulikan jawabanku sebelumnya.

“Naskah?”

Tuan Cho mengangguki pertanyaanku.

“A-aniya.. A-aku..”

“Aku ingin membaca naskahmu, nona Choi.”

Apa-apaan ini.

“Tuan, maafkan aku. Aku begitu gugup dan tak siap untuk memberi naskahku. Naskahku buruk, tuan. Sangat buruk. Naskah yang aku buat hanya akan membuat malu perusahaanmu itu. Mian, aku berani jamin itu.” Dan aku benar-benar meludahi keputusanku.

Tuan Cho tersenyum ramah untuk yang kesekian kalinya.

“Mengapa kau gugup sekali, nona Choi? Aku tidak memintamu untuk bekerja sebagai staff karyawan diperusahaan. Aku punya pekerjaan yang lebih intim daripada menjadi seorang staff diperusahaan.” Ucapan tuan Cho berhasil membuatku tidak jadi meludahi impian besarku. Syukurlah.

“Pekerjaan intim?” Aku bingung, pekerjaan intim macam apa yang ditawarkan oleh tuan Cho ini.

Tuan Cho mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Membenarkan sedikit posisi dasi merah maroon-nya. Tatapannya berubah serius, “Kau tahu aku memiliki anak tunggal?”

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Sungguh.

“A-anak tunggal? Tuan Cho KyuHyun?” Pertanyaan itu terucap begitu saja dari mulutku. Bisa kutebak, aku pasti terlihat sangat bodoh saat ini. Choi Hee Yeon, kontrol dirimu!

Tuan Cho mengangguk, “KyuHyun adalah anak tunggalku. Dan dia menjabat sebagai direktur utama kedua setelah aku di Cho Comunity.Ent. KyuHyun adalah seorang pekerja keras yang sangat work-aholic. Dia pintar. Sangat pintar dalam bidang apapun. Suatu hari, aku memintanya untuk memberikan naskah untuk diterbitkan. Aku meminta supaya dia sendiri yang membuat naskah itu. Dia menolaknya, karena dia memang tidak bisa membuat naskah. Jangankan membuat naskah, berimajinasi saja dia tidak bisa. Dan itu jelas membuat aku malu sebagai direktur utama Cho Comunity.Ent. Sebagai pemimpin perusahaan, tentu saja aku ingin menerbitkan karya yang anakku buat. Kalau saja KyuHyun menyanggupi itu, aku pasti akan sangat bangga.” Ucap tuan Cho.

“Tuan muda Cho tidak bisa membuat naskah? Lalu apa hubungannya denganku, tuan?”

“Aku ingin memintamu untuk menemui KyuHyun, lusa. Aku akan memberitahu Kyu nanti. Dan kau harus membantu KyuHyun untuk menghasilkan suatu naskah yang sempurna bagiku. Aku menyerahkan semuanya padamu, nona Choi. Tolong bantu aku, supaya kolega-kolega kerjaku bisa semakin puas dengan hasil kerja Cho Comunity.Ent dan bisa menanam investasi lebih pada perusahaanku sehingga mereka bisa mempercayakan artis-artis besar untuk membintangi film layar lebar yang diproduksi oleh Cho Comunity.Ent. Nona Choi, arraseo?”

Aku terpaku mendengar permintaan tuan Cho yang terhormat ini. Ia memintaku untuk campur tangan dalam pembuatan naskah perusahaannya? Dan ia memintaku untuk bekerja bersama tuan muda Cho? Itu artinya sebentar lagi aku bisa bertemu dengan Cho KyuHyun?

Na arraseo, tuan.”

“Jika hasil naskahmu dan KyuHyun berhasil menarik perhatian sutradara Shin, tanpa syarat aku akan menerimamu untuk bekerja diperusahaanku.” Lanjut tuan Cho.

“Kau serius?” Tanyaku memastikan.

Tuan Cho mengangguk, “Aku sungguh-sungguh. Jika kau menyetujui ini, datanglah ke kantor dua hari dari sekarang. Ini kartu namaku.” Ucap tuan Cho sambil memberikan kartu namanya padaku.

Aku mengangguki ucapan tuan Cho, “Ya, aku mengerti dan aku menyetujuinya tuan.”

Tuan Cho tersenyum, lalu berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.

“Aku permisi, dan sekali lagi terimakasih banyak.” Ucap tuan Cho sambil melangkah menuju pintu. Aku turut berdiri dan mengikuti langkah orang terhormat nan baik hati ini.

“Hati-hati dijalan, tuan.” Ucapku sambil mengantar kepergiannya.

Ia mengangguk, “Ah, aku melupakan satu hal. Berbaik hatilah pada KyuHyun, dia sangat tidak bersahabat dengan orang asing.” Kata tuan Cho yang langsung bergegas meninggalkanku dengan keterpurukanku.

“Tuan Cho KyuHyun tidak bersahabat dengan orang asing? Kau adalah orang asing, Choi Hee Yeon. Jangan berharap banyak padanya.”

~~

Aku tidak jadi membenci hari ini. Karena hari ini, aku menemukan cara untuk bisa menemui KyuHyun.

Tapi aku membenci satu hal yang terjadi pada hari ini. Hari ini aku mendapat keajaiban.

1. Aku mendapat kartu nama Tuan Cho DaeWoon
2. Dengan mudah aku mendapatkan akses untuk bisa bertemu dengan tuan muda Cho.

Aku membenci keajaiban dan aku tidak percaya keajaiban. Ah, ini hanya sebuah kebetulan. Ini bukanlah keajaiban.

Senja di kota Seoul sudah berlalu sejak satu jam yang lalu. Dan yang ada didepan mataku, hanyalah In Young tengah asik menikmati ramen yang dibuatnya sendiri. Sebelumnya, In Young menawarkan ramen untukku. Tapi aku tidak lapar, dan aku menolak tawaran menggiurkan itu. Ah, sudah lama aku tidak makan ramen.

Hee Yeon-ya, kau sungguh tidak lapar?” Tanya In Young sambil menyeruput ramen dari sumpitnya.

Aku menggeleng sambil terus menatap In Young yang terlihat sangat lapar. Entah, saat mengingat kalau dua hari lagi aku akan bertemu dengan KyuHyun, rasanya aku sudah kenyang dan tidak akan lapar lagi.

“Oh, aku lupa. Hee Yeon-ssi, ceritakan padaku apa yang hari ini kau bicarakan dengan tuan Cho?”

“Aniya.. tidak membicarakan apapun.”

“Tidak membicarakan apapun, tapi tuan Cho seakan membuatmu tidak lapar malam ini. Ayo ceritakan!”

“Terserah kau saja. Aku mengatakan yang sebenarnya.”

“Lupakan. Hee Yeon-ssi, soal naskah-naskahmu yang aku temui dimeja belajarmu tempo hari.. apa kau benar-benar akan mengirimkan semuanya ke Cho Comunity.Ent untuk diterbitkan?”

Aku menggeleng, seakan tidak pernah terjadi apapun pada diriku. “Tidak semudah itu, Young. Kau tau, Cho Comunity.Ent adalah perusahaan besar dan ternama. Naskah yang aku buat itu mungkim setara dengan sampah bekas makan siang staff-staff disana.”

In Young berdecak, “Kau selalu merendahkan diri.”

Aku hanya mengangkat bahu. Seandainya In Young tahu, kalau aku akan segera bertemu dengan tuan Cho yang selalu membuatku penasaran itu.

Aku kembali menyandarkan kepalaku didinding sofa. Rasanya aku tidak sabar untuk cepat bertemu dengan KyuHyun.

Drtt.. Drtt..

Aku meraih ponsel yang sebelumnya aku biarkan diatas meja. Mataku membulat melihat siapa yang menghubungiku malam ini. Ah, sial! Demi Tuhan aku sudah melupakannya. Aku berusaha mati-matian untuk melupakannya selama satu bulan ini. Aku sudah menghapus semua tentangnya. Dan malam ini, dia menghubungiku? Itu sama saja seperti dia mengejek usahaku yang begitu penuh airmata untuk melupakannya.

“Yeoboseyo?” Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Bahkan untuk mengucapkan namanya saja aku tidak bisa.

“Yeoboseyo, Yeon-ssi. Kau punya waktu?”

“Tidak lebih dari lima menit.”

“Kumohon luangkan waktu untuk malam ini saja. Kita perlu bicara.

“Aku tidak bisa. Aku tidak punya…”

“Ditepi sungai Han, satu jam dari sekarang. Ditempat biasa, dan aku akan membelikanmu ramen untuk makan malam. Kau pasti belum makan. Sampai bertemu, Yeon-ssi.”

Sambungan telepon itu terputus secara sepihak. Aku ingin nangis sekarang. Perasaan apa ini. Hatiku sudah mati. Sudah mati, Tuhan. Tapi rasa itu aku bisa rasakan sekarang. Dia.. Apa sebenarnya maunya?

Aku melirik jam dinding, “Aku tidak akan datang. Hae-ssi, pulang lah. Jangan menungguiku karena aku tidak akan datang.”

“Nuguseyo?” Tanya In Young sambil membawa peralatan makannya kedapur.

“Bukan siapa-siapa.” Jawabku dengan pikiran penuh pada orang yang mungkin sekarang sedang mencari ramen seperti janjinya.

“Choi Hee Yeon, nuguseyo?” In Young mengulang pertanyaannya. Kali ini, dia sudah duduk tepat disampingku.

Aku menghembuskan nafasku dengan kasar. Aku menatap lemah In Young, dan kembali membuang pandanganku. Aku menaikan kakiku dan memeluknya. Aku menundukan wajah yang pasti sudah memucat ini disela kakiku. Aku menarik kasar rambutku.

“Ya! Hee Yeon-ssi! Apa yang kau lakukan, eoh?”  In Young dengan paksa menarik tanganku yang tengah menjambak kasar rambutku sendiri.

“Donghae menghubungimu?” Seakan bisa membaca pikiranku, In Young menanyakan hal yang tepat.

Aku hanya mengangguk lemah.

“Dia memintamu untuk menemuinya? Ditepi sungai Han?”

Dan aku kembali mengangguk.

“Kalau begitu, bersiaplah! Temui dia. Kalian perlu bicara. Aku tidak mau melihatmu selalu menyiksa diri seperti ini.” Ucap In Young.

Aku menggeleng, “tidak. Aku tidak akan menemuinya. Aku ingin tidur. Kau mengantuk atau belum? Aku tidur lebih dulu.” Jawabku cepat seraya bangkit dari sofa dan tidak mau membahas tentang itu lagi.

“Apa dia berjanji akan membeli ramen untuk makan malam?”

Pertanyaan In Young kembali membuatku terdiam.

“Kau tega membiarkannya makan malam sendiri?”

Aku tidak tahu dan aku tidak bisa, In Young! Kau tahu itu!

“Kau belum mengantuk.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Benar-benar konyol.

“Kalau kau tidak mau menemuinya, aku yang akan menemuinya.” Ucap In Young sambil berdiri, seakan ia akan bersiap untuk pergi ke sungai Han.

Aku membalikkan tubuhku, “Han In Young..”

“Kau belum bisa merelakan aku untuk menemuinya. Kau, pergilah. Temui dia.”

Baiklah, aku mempertimbangkan ucapan In Young. Apa aku harus benar-benar menemuinya? Menemui orang yang sudah membuat hidupku berubah 180 derajat?

Aku tidak bisa, tapi aku harus. Dan aku membenci sifatku yang satu ini, aku punya rasa tidak tega yang tinggi.

“Baiklah. Aku akan menemuinya.”

~~

Malam ini, aku kembali menginjakan kaki ditepi sungai Han. Setelah dua bulan yang lalu aku mengakhiri sebuah hubungan dengan seorang laki-laki yang sangat aku cintai. Dan hubungan kami juga berakhir disini. Kali ini, tepat didepan mataku duduk seorang pemuda yang dua tahun lalu menyatakan perasaannya padaku, ditempat ini juga. Dia tengah duduk menunduk menatap dua cup ramen yang dipegangnya. Ramen itu berasap, pasti masih panas. Aku mau nangis, Tuhan. Aku harus apa?

Aku tetap diam pada posisiku, sampai akhirnya dia menyadari keberadaanku. Dia menatapku lembut, sama seperti saat dia mengucapkan cinta padaku. Dia tersenyum, masih dalam keadaan duduk dia menundukan tubuhnya memberi sapaan untukku.

“Annyeong, Yeon. Kau datang.”

Aku hanya bisa mengangguk.

Dia bergeser sedikit, memberiku tempat untuk duduk disampingnya. Dan bodohnya, aku bergerak lalu duduk disampingnya. Rasanya masih sama seperti saat kami masih berkencan dulu.

Aku tidak boleh mencintainya lagi.

Tidak.

“Untukmu.” Dia memberiku salah satu cup ramen, dan dia tersenyum padaku.

Aku mengambilnya, “Gomawo, donghae-ya.”

Dia mengangguk, dan mulai memakan ramen miliknya. Kami masih sama-sama canggung.

“Hee Yeon-ya, mianhae..”

Aku balik menatapnya, “Ne. Aku sudah memaafkanmu.”

“Mianhae, mianhae, jeongmal mianhae.”

“Donghae-ssi, cukup.”

“Aku akan menikah, Yeon. Maafkan aku.”

Aku tak tahu, ekspresi apa yang harus aku perlihatkan padanya saat ini. Ekspresi marah? Malu? Emosi? Bahagi? Sedih? Pura-pura bahagia dan menerimanya?

Aku terlihat benar-benar sangat bodoh dan memalukan.

“Chukhae.”

“Aku tidak ingin menikah.”

“Kau harus.”

“Yeon..”

“Aku pergi. Terimakasih atas ramennya. Aku menyukainya.” Dan aku tidak punya tenaga lebih untuk tetap diam disana. Aku sudah hancur benar-benar hancur tak berbentuk sekarang. Donghae, terimakasih banyak atas rasa sakit ini.

Aku berjalan menjauhinya. Dan aku harap, aku akan benar-benar dijauhkan darinya.

“Aku menyukaimu. Aku masih menyukaimu, bodoh.”

~

Aku berjalan dengan airmata yang sudah tak bisa ditahan. Rambut yang berantakan karena kujambak. Hati yang tak karuan, dan dada yang menyesak. Sungai Han masih ramai, tapi aku seakan merasa sendirian. Aku menangis, tapi tidak tau mau menyalahkan siapa.

“Aku akan menikah”  itu adalah kata-kata paling bajingan yang pernah aku dengar.

Bruk.

“Gwaenchana? Ramen milikmu tumpah. Mianhae.”

Aku terjatuh dengan lemahnya. Dan ramen pemberian Donghae tumpah karena aku tak punya lagi tenaga. Aku membersihkan kakiku dengan kasar, lalu aku menghapus airmata diwajahku dengan tingkat kekasaran yang tak jauh berbeda dengan saat aku membersihkan kakiku.

“Aku baik-baik saja.”

“Kau bisa berdiri? Aku akan membantumu.”

Aku tidak bisa menolak. Karena tenagaku sudah benar-benar habis. Habis sehabis-habisnya.

Dia laki-laki. Orang yang baru saja bertabrakan denganku dan kini menawarkan bantuannya adalah laki-laki. Aku menatap tangan yang terulur didepanku. Jari-jarinya lentik dan aku langsung menyambut uluran tangannya.

“Gwaenchana, nona? Kau terlihat tidak baik.”

Aku sudah bisa berdiri dengan bantuan tangannya yang melingkari pinggangku. Aku berusaha untuk menatapnya, tapi sebelumnya aku mengusap lagi wajahku untuk memastikan tidak ada lagi airmata konyol disana.

Ah, pria ini tampan sekali. Wajahnya tegas dan terlihat sangat baik.

“Gwaenchana.. aku tidak apa-apa. Terimakasih.” Jawabku sambil berusaha melepas tangannya yang melingkari pinggangku.

“Aku harus segera pulang. Terimakasih atas bantuannya.”

Baru saja tangan itu terlepas dari tubuhku, ia sudah membuat tubuhku berbalik untuk menatapnya. Kini kami bertatapan. Ya, dia memang tampan. Dan betapa memalukannya penampilanku saat ini. Rambut yang berantakan, wajahnya yang memengap, mata yang membengkak, dan pakaian yang basah karena tumpahan ramen. Dia menatapku iba, dan asal dia tahu aku tidak suka dikasihani.

“Kau tidak baik-baik saja. Kajja! Aku akan membelikan ramen untukmu. Kebetulan, aku belum makan. Kita bisa makan malam bersama.”

Tanpa aba, dia kembali melingkari pinggangku dan menuntunku untuk berjalan. Ah, dia tahu kalau aku tidak punya tenaga untuk berjalan.

“Setelah makan malam, aku akan mengantarmu pulang. Kau tenanglah. Aku bukan orang jahat.”

Bahkan aku tidak sekalipun menganggapnya sebagai orang jahat.

“Tuan, terimakasih banyak. Kau menyelamatkanku.”

~~~

TBC.

MAAF KALAU BELUM MEMUASKAN. INILAH KEMAMPUANKU.

BUTUH KOMENTAR BIAR AKU LEBIH SEMANGAT UNTUK LANJUTIN INI. INI NGGAK PANJANG, KOK. TENANG AJA:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s